Selasa, 03 Agustus 2010

SEJARAH PERTEMPURAN

1. Kesimpulan. Dari peristiwa-peristiwa yang tersebut di atas maka kiranya dapat diambil beberapa kesimpulan, di antaranya:
a. Pertempuran yang dimulai pada tanggal 10 November 1945 didahului dengan suatu “ultimatum”, suatu pernyataan terang-terangan yang merupakan tantangan terhadap pembesar pemerintahan, alat negara, dan rakyat Republik Indonesia. Untuk pertama kali dalam sejarah, Republik Indonesia menerima tantangan kekuasaan asing yang hendak melanggar kedaulatannya, dan untuk pertama kali pula Republik Indonesia melawan!
b. Pecahnya pertempuran 10 November 1945 disebabkan oleh tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby dalam pertempuran di depan Gedung Internatio. Mobil yang ditumpanginya hangus terbakar dan itu menjadi saksi utama dari meluapnya kemarahan kedua belah pihak. Bekas-bekas yang hangus itu pula telah ikut menentukan jalannya sejarah Tanah Air selanjutnya. Peristiwa itu dinamakan “ a new turn to the situation in Java” (suatu kejadian yang akan membawa perubahan keadaan di Pulau Jawa).



2. Pertempuran Ambarawa
Pada 23 Nopember 1945 pecah pertempuran di Ambarawa antara TKR di bawah pimpinan Letkol Isdiman dan Mayor Soeharto dan tentara sekutu. Dalam sebuah pertempuran Letkol Isdiman gugur ditembak musuh dan selanjutnya TNI dipimpin oleh kolonel Sudirman. Dalam penyerangan kolonel Sudirman menggunakan taktik “Supit Urang” (menekan dari dua sisi) untuk menekan pasukan sekutu. Pada 12 Desember 1945 pejuang Indonesia melancarkan serangan besar-besaran. Serangan tersebut berhasil memukul mundur tentara sekutu hingga bertahan di Benteng Wilem (Ambarawa) dan karena merasa terdesak pasukan sekutu mundur dari Ambarawa ke Semarang. Untuk mengenangnya, maka 15 Desember diperingati sebagai hari Infanteri dan didirikan monumen palagan Ambarawa.





3.Kesimpulan
Pertempuran di Medan Area merupakan perlawanan yang paling sengit dan panjang di Sumatera Timur, yang berlangsung hampir 2 tahun. Dalam peristiwa ini ialah motivasi rakyat dan Pemuda Pejuang yang tidak mau dijajah dengan disertai sikap ulet dan pantang menyerah. Tapi walaupun demikian bagaimana pun kuatnya motivasi, tanpa dilandasi kerjasama dan koordinasi yang baik, maka setiap kegiatan dapat mengalami kegagalan. Sejarah telah membuktikan betapa pahitnya keadaan ini.Pada tanggal 9 Oktober 1945 tentara Inggris yang diboncengi oleh NICA mendarat di Medan, Sumatera Utara.Mereka dipimpin oleh Brigjen T.E.D Kelly. Awalnya mereka diterima secara baik oleh pemerintah RI di Sumatra Utara sehubungan dengan tugasnya untuk membebaskan tawanan perang (tentara Belanda).Sebuah insiden terjadi di hotel Jalan Bali, Medan pada tanggal 13 Oktober 1945. Saat itu seorang penghuni hotel (pasukan NICA) merampas dan menginjak-injak lencana Merah Putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan para pemuda. Akibatnya terjadi perusakan dan penyerangan terhadap hotel yang banyak dihuni pasukan NICA. Pada tanggal 1 Desember 1945, pihak Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut kota Medan. Sejak saat itulah Medan Area menjadi terkenal. Pasukan Inggris dan NICA mengadakan pembersihan terhadap unsur Republik yang berada di kota Medan.Hal ini jelas menimbulkan reaksi para pemuda dan TKR untuk melawan kekuatan asing yang mencoba berkuasa kembali.Pada tanggal 10 Agustus 1946 di Tebingtinggi diadakan pertemuan antara komandan-komandan pasukan yang berjuang di Medan Area. Pertemuan tersebut memutuskan dibentuknya satu komando yang bernama Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area.






4.Suatu hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harts benda mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun ke¬mudian, lagu "Halo Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang sekarang telah menjadi lautan api.
Setelah Proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia. Jejak Perjuangan "Bandung Lautan Api" membawa kita menelusuri kembali berbagai kejadian di Bandung yang berpuncak pada suatu malam mencekam, saat penduduk melarikan diri, mengungsi, di tengah kobaran api dan tembakan musuh.Sebuah kisah tentang harapan, keberanian dan kasih sayang. Sebuah cerita dari para pejuang kita ...

Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerde¬kaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan.Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat meng¬hadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk me¬nyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan.Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung diman¬faatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumi¬hanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota. Malam itu pembakaran kota berlangsung besar-besaran. Api menyala dari masing-masing rumah penduduk yang membakar tempat tinggal dan harta bendanya, kemudian makin lama menjadi gelombang api yang besar. Setelah tengah malam kota telah kosong dan hanya meninggalkan puing-puing rumah yang masih menyala.Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.






5.Selama bulan Juli 1946 (60 tahun yang lalu) berbagai peristiwa telah terjadi di Indonesia. Misalnya sehabis penculikan Sjahrir Juni 1946, gerakan kaum radikal yang lain terjadi lagi, yaitu apa yang disebut sebagai Peristiwa 3 Juli 1946. Sebuah usaha kudeta yang dipimpin Jederal Mayor Soedarsono (komandannya Soeharto di Divisi III Jawa tengah). Usaha yang dimotori kelompok Tan Malaka ini maksudnya mendesak Presiden agar mau mengganti kabinet. Karena Kabinet Sjahrir dianggap terlalu banyak memberikan konsesi kepada Belanda. Apalagi setelah pidato Bung Hatta yang membocorkan bahwa akan diadakan perundingan baru dengan Belanda dimana antara lain akan dicapai kesepakatan wilayah Republik Indonesia akan meliputi sebatas Jawa dan Sumatera saja. Bagi kelompok Tan Malaka yang menginginkan kemerdekaan 100 % atau tidak ada kompromi dengan pihak Imperialis dan Kolonialis itu, kebijaksanaan pemerintah yang dianggap mau menerima tekanan luar itu, harus dibereskan. Maka kaum militer bekerja sama dengan kaum politik untuk melakukan apa yang dinamakan "Peristiwa 3 Juli". Mereka menyerbu istana Yogya dan rumah Amir Syarifudin. Menteri pertahanan ini yang nyaris terbunuh ternyata selamat, tapi dua orang penjaga rumahnya ditembak mati. Buntutnya pemerintah bertindak tegas, semua jaringan peristiwa 3 Juli 1946 terbongkar, sejumlah orang sipil dan militer ditangkap. Untuk itu dibentuk Mahkamah Militer Luar Biasa. Orang sipil, selan Tan Malaka, ditangkap juga Mohmad Yamin, Adam Malik, Chaerul Saleh, Akhmad Soebardjo dan masih banyak lagi. Selain peristiwa diatas, Sjahrir yang melakukan "Politik beras" yaitu membantu India yang sedang dilanda kelaparan dengan 500.000 ton gabah kering, ahirnya berhasil sebagian menembus blokade Belanda. Meskipin sejumlah besar gabah di Banyuwangi dibom dan dibakar Belanda. Proyek ini sekaligus membuat simpati dunia pada Revolusi Indonesia. Peristiwa ketiga yang terjadi adalah koperensi Malino. Rupanya pihak Belanda bereaksi cepat setelah penyerahan wilayah diluar Jawa dan Sumatera mulai dialihkan dari tangan pasukan sekutu kepada tentara Belanda pada tanggal 10 Juli 1946 jam 0.00 tengah malam. Konperensi Malino (sebuah kota peristarahatan di Sulawesi Selatan) berlangsung dari tanggal 16 - 22 Juli 1946. Adapun maksud dan tujuan Konperensi Malino ini adalah untuk membahas gagasan berdirinya Negara Indonesia Timur (NIT). Disamping itu juga membuka wilayah lainnya diluar Jawa yang anti Republik, seperti antara lain di Kaimantan, Maluku, Flores, Bali, Lombok, Sumbawa, Bangka, Belitung dan sebagainya. Pada foto pertama tampak karikatur sebuah surat kabar Republik yang memperlihatkan van Mook sedang berpidato berapi-api dimuka para wakil rakyat Indonesia yang pro Belanda, sementara dibelakangnya ada patung Ratu Wilhelmina. Foto kedua dan ketiga, para pejabat Belanda dalam suasana sidang Konperensi Malino. Perlu diketahui Konperensi ini dihadiri 39 orang yang berasal dari 15 daerah. Beberapa tokoh pro Belanda antara lain yang hadir adalah, Tjokorde GR Sukawati, Nadjamudin daeng Malewa, Sultan Hamid ke II dan AR Afloes. (diambil dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar